Kapan Nikah?

Diusia-usiaku, apalagi sebagai perempuan, pertanyaan ini sering banget ditanyakan oleh orang-orang, entah itu teman deket, temen jauh, sahabat, keluarga, rekan kerja dan sebagainya.

Awal-awal masih biasa aja, tapi pertanyaan seperti ini beberapa bulan belakangan ini mulai terasa agak ditahap ‘annoying’. Mungkin juga karena sudah mulai banyak orang-orang seusiaku yang sedang menjalani posisi akan menikah, dan aku mulai merasa ada ditahap, terintimidasi.

People : Kapan, Ki nyusul?//Kapan Ki nikah?//Udah punya calon belum?//Gimana sama yang itu?//Gimana sama yang ini?//Mau ga sama ini?//Mau ga gua jodohin?//Mau ga gua kenalin?//Ayolah cepetan nikah.

Me : Iya mau kok nikah cepet, mau juga disegerakan, kan ibadah juga, doain ya biar taun 2018 bisa nikah.

People : emang udah ada calonnya?//sama siapa?

Me : udah sih, ada sama Allah, belum ada hilalnya aja tapi.

People : Udah standarnya diturunin, jangan ketinggian.//Udahlah sama si ini aja.//Kalau mau nikah ikhtiar doong, percuma kalo ga ikhtiar.//2018? Hijriah Ki?//Ga percaya gua Ki lu 2018, calonnya aja belum ada, masih ga jelas.

Me : Huuuuft

Kalau boleh jujur, tahun 2016 adalah tahun sangat terpuruknya aku dari hal-hal tentang romantisme macam anak ABG itu. Merasa bener-bener broken heart. Dan mulai belajar bangkit lagi di awal 2017. Sampai akhirnya setelah banyak perenungan sana-sini diriku mulai mendewasakan diri dari persoalan masa lalu, dan mulai membenahi diri secara spiritual.

Hingga, di pertengahan 2017 aku menemukan hakikat sebuah pasangan hidup dan pernikahan. Menikah ternyata ga secetek yang aku bayangkan dahulu. Menikah pada dasarnya harus berlandaskan agama. Karena menikah itu memang salah satu perintah dari-Nya.

Suami, kelak menjadi imam bagi istrinya, segala perilaku seorang istri menjadi tanggung jawab suami semenjak ijab qobul.

Laki-laki baik diciptakan untuk perempuan baik-baik, dan sebaliknya.

Aku merasa diriku masih sampah banget di 2017 itu, sampai akhirnya pelan-pelan memperbaiki diri dan memantaskan diri untuk bisa bersanding dengan laki-laki baik.

Ikhtiar itu salah satunya dengan berusaha memantaskan diri dan memperbaiki diri, bukan sesuai calon, tapi sesuai dengan perintah-Nya.

Aku ingin lelaki yang sholeh, yang ketika bersamanya aku jadi ingat sama Allah, jadi ingin semakin dekat ke Allah.

Walaupun jalannya mungkin tidak akan semulus yang aku inginkan. Tapi aku yakin, Allah pasti ga tidur.

Sabar ya, Ki.

Allah knows what, who and how the best for you is, always!

Advertisements

Berbagi.

Ingat ga ada sebuah kutipan bahwa,

Berbagi itu bukan mengurangi nikmatmu, tapi berbagi itu justru menambah nikmatmu.

Kadang kita terlalu sibuk dengan hal duniawi, sehingga kita lupa untuk berbagi. Berbagi hanya ala kadarnya, setiap habis gajian, sekadar untuk memenuhi kewajiban 2,5% saja. Padahal kita dianjurkan untuk berbagi lebih dari itu.

Padahal kita dianjurkan untuk menjadikan berbagi sebagai kebiasaan kita. Berbagi tidak hanya berupa materi, bisa berupa jasa, bahkan senyuman pun salah satu hal terkecil untuk berbagi. Berbagi kebahagiaan.

Berbagi bisa meningkatkan sensitifitas kepedulianmu.

Berbagi bisa melembutkan hatimu.

Berbagi bisa membuat kita makin bersyukur atas segala nikmat-Nya.

Berbagi bisa mengingatkan kita untuk tidak mudah mengeluh diatas setiap kesukaran.

Berbagi bukanlah sebuah hitungan matematis, dimana kamu memberi 10 maka akan mendapatkan 10. Tidak, karena berbagi itu akan memberimu lebih dari 10, bahkan bisa berlipat-lipat jumlahnya.

Berbagi bisa banyak caranya.

Berbagi bisa banyak jalannya.

Jangan lupa untuk sering berbagi ya, Ki! Coba untuk lebih peduli, ok?