Memaafkan diri sendiri.

Repost :

Urusanmu terhadap perasaanmu, adalah urusanmu sendiri. Meski pernah ada yang datang, kemudian pergi. Ada yang memberi harapan, kemudian hilang bagai ditelan bumi. Semuanya menjadi urusanmu.

Sebanyak apapun kita membuat alasan, juga pembenaran. Dan seingin apapun kita menimpakan apa yang terjadi sebagai kesalahan orang lain. Justru, saat-saat seperti itulah yang membuat kita tidak bisa beranjak kemana-mana.

Hal yang paling sulit selain bersyukur adalah berlapang dada. Menerima kenyataan bahwa memang itu semua adalah kesalahan kita sendiri yang tidak mampu mengendalikan diri. Ketidakmampuan kita dalam mengendalikan perasaan, emosi, pikiran, dan membiarkannya terbang bebas memikirkan apapun. Kita terperangkap dalam asumsi yang kita buat sendiri.

Biarkanlah perasaan itu hilang seiring perjalanan. Seiring waktu saat kita berusaha menerima bahwa kitalah yang salah dan kita bersedia untuk memaafkan diri kita sendiri.

Memaafkan diri kita di masa sebelumnya yang lalai, yang lengah, yang tidak bisa mengendalikan perasaan, yang membiarkan orang lain masuk dan pergi begitu saja, yang membiarkan perasaan berbunga-bunga dengan asumsi bahwa ini akan berakhir indah selamanya. Padahal, kita tahu, kita tidak bisa mendahului takdir.

Upaya kita adalah menerima dan memaafkan, diri sendiri.

Yogyakarta, 2 November 2017 | ©kurniawangunadi

Mungkin, aku memang bukan belum memaafkan orang lain, tepatnya aku belum bisa memaafkan diri sendiri..

Advertisements

Do’a

Bismillah…

Beberapa hari terakhir ini, banyak omongan dari orang sekitar yang meremehkan doaku

memandang rendah doaku

dan pesimis doaku akan tercapai

sediiiih rasanya, sediiih banget.. mungkin karena lagi sensitif ya, jadi baper banget

tapi aku percaya Allah itu akan mengabulkan doa ku

aku percaya rahmat Allah dan kuasa Allah melebihi luasnya langit dan bumi

aku percaya Allah itu Maha Baik

dan aku insya allah berprasangka baik terhadap semua jalan dari-Mu

ga ada yang ga mungkin menurut-Mu, ga ada yang ga bisa menurut-Mu

dan aku percaya itu

bukankah Allah berkehendak sesuai dengan prasangka hambanya?

kuatkan kesabaran hamba Ya Rabb..

kabulkanlah doa hamba Ya Rabb..

berpindah.

sungguh aku begitu menyesal dengan keindahan itu

terasa sulit dan sangaat sulit

hakikat hidup muncul di permukaan. Ranting yang patah akan aku coba luruskan untuk tegak berdiri

tidakkah nyatanya aku mampu untuk berpindah?

merasakan ada jalan lain yang menuntunku untuk melangkahkan kaki satu persatu. Rupanya selama ini aku telah tersesat. Bukan karena tidak tahu harus kemana, tapi melainkan karena tidak tahu saat ini sedang berada di mana. Hanya disini, tentang indahnya dunia yang tak kekal adanya.

Bisa karena terbiasa.

Jika engkau terbiasa dengan keburukan, maka itulah dirimu. Namun, jika engkau terbiasa dengan keburukan tapi ingin berubah menuju kebaikan? Itulah dirimu sebenarnya.

Tetaplah melangkah, sedekat dan sejauh kamu melangkah, tetaplah tabah. Kekhawatiran itu akan aku hilangkan selamanya.

Kembali dalam khusnul khotimah  itu adalah cita-citaku. Dan takkan mudah melaluinya.

Ketetapan Terindah – Panji Ramdana | 2017