nyaman.

Sedikit bercerita, tadi pas pulang kerja saya membawa yoga mat, saya sampirkan dengan aman di antara tas ransel saya. Tetapi selama perjalanan saya merasa tidak nyaman dan khawatir kalau yoga mat saya bakal jatuh, padahal sudah dipastikan banget bahwa itu ga akan jatuh. Alhasil saya genggam kuat yoga mat dengan sebelah tangan.

Dari cerita itu saya jadi ingin membahas tentang pentingnya sebuah kenyamanan dan pentingnya sebuah ketidaknyamanan.

Bagaimanapun hidup, kalau kita tidak nyaman dengan sesuatu yah percuma ya. Hubungan sesama manusia (mau itu mencari pasangan hidup, pekerjaan, keluarga, persahabatan, pertemanan, atau lainnya), hubungan manusi dengan benda mati, hubungan manusia dengan alam. Kalau menimbulkan ketidak kenyamanan di salah satu pihak kan ya terasa mengganjal kan?

Memang sih banyak quotes yang menyarankan kita untuk out of our comfort zone, but it doesn’t mean we can’t have a comfort zone in my life, right?

Buat saya pribadi, kenyamanan itu penting banget.

Out of comfort zone itu memang butuh sekali-kali (mungkin typical orang yang seneng tantangan banget kali ya kalo dia butuh out of comfort zone everytime, everyday) karena itu yang membuat kita ‘naik kelas’. But sometimes, we go out of our comfort zone because we want to find another our comfort zone, right?

Nyaman itu jebakan. Makanya pinter-pinter menjalani kenyamanan hidup ini. Toh, hidup itu juga butuh seni kan agar hidup kita memiliki cerita yang dinamis?

Intinya, nyaman itu penting! That will make you enjoy every single time of your life.

Tapi, ketidaknyaman juga penting! Untuk mengingatkanmu, untuk menyadarkanmu, untuk membuatmu berpikir, yang pada akhirnya bisa membuatmu menjadi seseorang yang lebih baik lagi.

So, live in comfort zone or uncomfort zone?

I choose both.

Tapi kalo untuk urusan kenyamanan sebagai sesama manusia, saya pilih yang nyaman dan tidak memilih yang tidak nyaman. Sama halnya ketika memutuskan memilih pasangan hidup, saya tentunya akan mencari yang saya akan nyaman ketika bersamanya 🙂

(Tulisannya agak kurang ngalir, tapi biarkanlah, males baca lagi, udah lelah ha ha)

Advertisements

Akad

Betapa bahagianya hatiku saat
Ku duduk berdua denganmu
Berjalan bersamamu
Menarilah denganku

Namun bila hari ini adalah yang terakhir
Tapi ku tetap bahagia
Selalu kusyukuri
Begitulah adanya

Dan bila kau ingin sendiri
Cepat cepatlah sampaikan kepadaku
Agar ku tak berharap
Membuat kau bersedih

Bila nanti saatnya t’lah tiba
Kuingin kau menjadi istriku
Berjalan bersamamu dalam teriknya hujan
Berlarian kesana-kemari dan tertawa

Namun bila saat nanti senja tiba
Izinkanku menjaga dirimu
Berdua menikmati pelukan diujung waktu
Sudikah kau temani diriku

PAYUNG TEDUH

 

Some people around me said, if we du’a about the marriage partner to Allah, we should be spesific about what we want, both of phisically or character.

Semoga akad kita disegerakan, supaya di setiap detik waktu yang kita lewati bisa menjadi ladang ibadah. Aamiiin

 

tidak

hati?

hati ku pun tak tahu,

ia masih bingung

heem, tidak, ia sudah tak bingung, ia tahu harus bagaimana

jika ia ditanya pasti jawabannya tidak

tapi

kenapa tubuhnya, dibawah alam sadarnya, selalu mengatakan iya

padahal sesungguhnya ia ingin sekali bilang ke tubuhnya untuk berkata tidak

duuh bisa ga sih nih tubuh bilang tidak juga?

😦