Berdoalah.

Satu-persatu datang…

Satu-persatu mengungkapkan..

Satu-persatu pergi..

gundah rasanya,

sedih karenanya,

bukan..

bukan bermaksud untuk menolak, tapi apalah daya Allah belum membuka hati

Mari kita ikhtiar lebih lagi, untuk bisa mengetuk hati-Nya,

toh Dia kan yang Maha Membolak-balikkan hatiku, termasuk hatimu

Entah nantinya siapa yang akan bisa mencapainya

Entah nantinya siapa yang akan bisa tinggal karena-Nya

berdoalah…

Advertisements

Kamu..

Sosok nya datang begitu cerah di kehidupanku yang sedang kelam-kelamnya

Sosoknya hadir dengan menyejukkan hati..

Ah, kamu begitu memiliki banyak pesona

Pesona yang mungkin aku tidak pantas mendapatkannya

Kamu..

yang masih berada di dalam doa-doaku

Kapan Nikah?

Diusia-usiaku, apalagi sebagai perempuan, pertanyaan ini sering banget ditanyakan oleh orang-orang, entah itu teman deket, temen jauh, sahabat, keluarga, rekan kerja dan sebagainya.

Awal-awal masih biasa aja, tapi pertanyaan seperti ini beberapa bulan belakangan ini mulai terasa agak ditahap ‘annoying’. Mungkin juga karena sudah mulai banyak orang-orang seusiaku yang sedang menjalani posisi akan menikah, dan aku mulai merasa ada ditahap, terintimidasi.

People : Kapan, Ki nyusul?//Kapan Ki nikah?//Udah punya calon belum?//Gimana sama yang itu?//Gimana sama yang ini?//Mau ga sama ini?//Mau ga gua jodohin?//Mau ga gua kenalin?//Ayolah cepetan nikah.

Me : Iya mau kok nikah cepet, mau juga disegerakan, kan ibadah juga, doain ya biar taun 2018 bisa nikah.

People : emang udah ada calonnya?//sama siapa?

Me : udah sih, ada sama Allah, belum ada hilalnya aja tapi.

People : Udah standarnya diturunin, jangan ketinggian.//Udahlah sama si ini aja.//Kalau mau nikah ikhtiar doong, percuma kalo ga ikhtiar.//2018? Hijriah Ki?//Ga percaya gua Ki lu 2018, calonnya aja belum ada, masih ga jelas.

Me : Huuuuft

Kalau boleh jujur, tahun 2016 adalah tahun sangat terpuruknya aku dari hal-hal tentang romantisme macam anak ABG itu. Merasa bener-bener broken heart. Dan mulai belajar bangkit lagi di awal 2017. Sampai akhirnya setelah banyak perenungan sana-sini diriku mulai mendewasakan diri dari persoalan masa lalu, dan mulai membenahi diri secara spiritual.

Hingga, di pertengahan 2017 aku menemukan hakikat sebuah pasangan hidup dan pernikahan. Menikah ternyata ga secetek yang aku bayangkan dahulu. Menikah pada dasarnya harus berlandaskan agama. Karena menikah itu memang salah satu perintah dari-Nya.

Suami, kelak menjadi imam bagi istrinya, segala perilaku seorang istri menjadi tanggung jawab suami semenjak ijab qobul.

Laki-laki baik diciptakan untuk perempuan baik-baik, dan sebaliknya.

Aku merasa diriku masih sampah banget di 2017 itu, sampai akhirnya pelan-pelan memperbaiki diri dan memantaskan diri untuk bisa bersanding dengan laki-laki baik.

Ikhtiar itu salah satunya dengan berusaha memantaskan diri dan memperbaiki diri, bukan sesuai calon, tapi sesuai dengan perintah-Nya.

Aku ingin lelaki yang sholeh, yang ketika bersamanya aku jadi ingat sama Allah, jadi ingin semakin dekat ke Allah.

Walaupun jalannya mungkin tidak akan semulus yang aku inginkan. Tapi aku yakin, Allah pasti ga tidur.

Sabar ya, Ki.

Allah knows what, who and how the best for you is, always!