Titip.

Ku titipkan rasa rindu ini pada-Mu

Ku titipkan rasa cemas ini pada-Mu

Ku titipkan harapan harapan ini juga pada-Mu

Jaga dan lindungi dia Yaa Rabb..

Mudahkanlah segala ikhtiarnya

Lapangkan hatinya

Kuatkanlah kesabarannya

Bimbinglah hatinya untuk selalu berada di jalan-Mu

Advertisements

Datang dan pergi.

Pertama kali kulihat sosoknya, ia berada diatas pelaminan, sedang berfoto bersama teman-temannya. Ia terlihat rapi mengenakan jas. Yang terlintas pertama kali, adalah sosoknya yang kecil.

Selepas itu tak lagi ku berani untuk melepaskan pandangan. Ku sibukkan saja diriku dengan teman-temanku. Hingga akhirnya HP ku berbunyi, ia WA dan mengatakan bahwa ia menungguku di depan pintu keluar.

Setelah suasana cukup sepi, karena tamu sebagian sudah pulang. Aku langkahkan kakiku mendekatinya. “Hai!”

Ia dengan senyumnya dan canggungnya menganggukkan kepala. Sedikit bertegur sapa, mengobrol dan melepaskan canda, setelah itu aku mengajaknya untuk duduk di kursi. Mengobrol sana sini sambil melepaskan pandangan ke pelaminan, memperhatikan aktifitas pengantin dan keluarga yang sedang berfoto. Sesekali aku kehabisan bahan bicaraan karena masih canggung. Dan dengan baiknya dia bisa membuka lagi obrolan.Di dalam gedung, petugas mulai bersih-bersih sehingga kami pindah duduk ke depan gedung. Lagi, ngobrol ngalur ngidul, hingga akhirnya kami memutuskan untuk berjalan kaki, sedikit mencari angin sambil mengobrol di daerah. Kebetulan depan gedung pernikahan adalah alun-alun kota.

Lucu, kami dengan dresscode sangat rapi, aku mengenakan rok adat dan makeup tebal dan dia mengenakan jas hitam, kemeja putih, dan pantofel kami berjalan kaki menyusuri trotoar. Dan mampir ke pedagang kaki lima. Mengobrol tentang diriku dan tentang dirinya. Tentang masa laluku dan tentang masa lalunya. Tentang rencana masa depanku dan tentang rencana masa depannya.

Suasana pertemuan pertama yang berkesan.

Begitu ya namanya hidup. Silih berganti orang datang dan pergi.

Qodarullah, itu semua takdir Allah. Tak ada yang bisa menghalangi siapa yang akan datang, menetap, ataupun pergi. Dan tidak ada yang bisa menebak orang yang baru datang di kehidupan kita memang hanya untuk singgah, atau untuk menetap, untuk memberi senyum atau memberi luka, untuk memberi manfaat atau membawa petaka.

Jangan pernah takut dengan orang yang datang karena engkau takut dia akan pergi.

Jangan pernah berharap dengan orang yang datang karena engkau nantinya akan kecewa.

Jangan pernah menutup diri dengan orang yang datang karena bisa saja ia membawa senyum dan bahagia.

Maafkan dan ikhlaskan dengan apa yang lalu pernah terjadi. Itu akan memperlancar dan melapangkan hidupmu selepasnya.