Pelajaran Tersirat di Sebuah Cerita

1

Tugas akhir, skripsi atau penelitian. Apapun itu namanya. Ini cerita adalah curahan hati ūüôā

Semula saya punya harapan yang indah dari skema perkuliahan yang telah saya rencanakan dari awal. Sampai pada semester 7, semua berjalan sesuai yang saya kehendaki. Syarat-syarat mata kuliah sudah terpenuhi semua, bahkan beberapa selesai lebih cepat dari yang seharusnya.

Ambisi awal dari kuliah untuk lulus hanya dengan 8 semester terasa lebih nyata. Ditambah dengan proyek dosen yang diberikan sebagai tema skripsi. Awalnya, saya berpikir mahasiswa yang diberi proyek dosen itu akan cepat lulus dan biaya penelitian ditanggung. Ikutlah saya dengan penelitian dosen A yang berperan sebagai dospem kedua, sampai pada akhirnya saya seorang diri ditarik untuk mengikuti proyek dosen B yang tak ada peran (saat itu) dalam skripsi saya. Karena permintaan dospem, mau tidak mau saya mengiyakan dan tidak enak untuk menolak, karena berpikir Insya Allah jalan yang terbaik walaupun saat itu saya tidak mengerti mengenai tema dan teori proyek yang akan saya kerjakan.

Teori dan segalanya dapat dipelajari melalui literatur lewat internet, textbook, jurnal dan lainnya. Masalahnya tetapi bukan disitu. Proyek tersebut memiliki deadline di akhir semester 7. Dikebutlah saya dan tim untuk mengerjakan penelitian tersebut. Kebetulan semester 7 merupakan semester walaupun dengan sks yang sedikit tetapi membutuhkan banyak waktu untuk menyelesaikannya. Awalnya kami merasa senang karena merasa penelitian akan selesai di semester 7. Tetapi rencana ternyata tak seindah realita. Banyak perselisihan yang terjadi antara kami (tim mahasiswa) dan dosen-dosen yang terlibat akibat salah komunikasi. Tangis dan kekecewaan kami rasakan saat itu. Betul-betul drop! Dan ternyata penelitian yang kami lakukan saat itu baru memasuki penelitian pendahuluan.

Alhamdulillah dospem saya menjadi angel saat itu dan menjadi pendamai diantara kita-kita. Beliau menenangkan saya lewat telepon dan sepertinya dia tahu kalau saya sedang menangis, beliau mengatakan, “Wayahna ki, sing sabar.. Emang harus melewati jalan seperti ini, Insya Allah semuanya lancar.”

Setelah itu, ternyata jalan saya masih berliku dan penuh kerikil di semester 8. Menyusun draft usulan penelitian sampai selesai, Alhamdulillah selesai sesuai target, tetapi saya diuji lagi kesabarannya untuk menunggu teman setim saya selesai draftnya agar kami dapat penelitian utama bersama. Sebulan dua bulan tak kunjung ada progress, dan akhirnya dospem saya menyuruh saya untuk maju lebih dahulu di sidang. Setelah sidang, saya pikir kita bisa mulai penelitian tanpa harus teman saya sidang. Ditunggu sebulan, duabulan tak kunjung ada progress. Beban terasa semakin berat, beban ke orang tua karena harus masuk semester 9, membayar kuliah satu semester lagi dan bayar uang kosan lagi. Dan dospem pertama saya pergi untuk melanjutkan studi S3-nya sehingga dosen penelaah saya, ibu prof yang sibuk, naik menjadi dosen pembimbing. Benar-benar ngedrop, 2 minggu saya sering menangis sampai sakit karena kepikiran tanpa bisa melakukan banyak hal ditambah iri dengan banyak teman-teman kosan, teman-teman lewat medsos mengumumkan sudah memiliki gelar baru. Iri dengan teman-teman yang cuma mendapatkan gelar wisuda dengan perjuangan skripsi hanya 3-4 bulan. Rasanya seperti orang yang sedang bermimpi berada di awan-awan tapi tiba-tiba dijatuhkan.

Sampai detik ini, skripsi saya hanya berjalan sekitar 40% dan itu membutuhkan waktu 10 bulan dan sebagian dilakukan hanya dengan menunggu.

Tapi sampai akhirnya saya menyadari bahwa banyak yang saya pelajari selama 10 bulan, yang mungkin tidak akan saya bisa pelajari bila skripsi saya berjalan dengan yang saya mau.

Dospem saya bilang seperti ini, “Kalian lulus tidak 8 semester, tidak menjadikan diri kalian lebih jelek dari yang lulus 8 semester. Ini semua sudah jalan terbaik yang Allah berikan. Apapun itu, percayalah ini jalan terbaik yang harus kalian lalui.”

Teman-teman yang sudah lulus bilang seperti ini, “Masa-masa perjuangan menyusun skripsi sebenarnya belum sebanding dengan nanti, itu sebenarnya cuma awal perjuangan doang loh, Ki. Di luar nanti jauh lebih berat.”

Teman-teman seperjuangan bilang seperti ini, “Tahu ga kenapa kita sering ngedrop? Karena kita seringnya melihat ke atas, coba kita lihat ke bawah, seharusnya kita bersyukur. Masih ada kok yang merasakan perjuangan lebih berat dari kita.”

Bapak bilang, “Kiki lagi diuji.”

Ibu bilang, “Jangan lupa berdoa, sholat jangan ditunda, biar urusannya juga ga ditunda sama Allah. Sholat tahajudnya dirutinkan. Berdoa sama Allah biar hati orang-orang yang terlibat penelitian dibukakan.”

Sampai titik ini saya belajar banyak hal.

Pertama, attitude. Terutama kepada orang yang lebih tua. Saya dibesarkan dilingkungan yang apa adanya, berbicara apa adanya tapi masih berbuat sesopannya. Setelah berselisih dengan dosen-dosen, saya belajar berattitude dengan baik terhadap orang tua, Insya Allah. Tersenyum, memberikan perhatian, dan bertutur kata yang baik, berkomunikasi dengan baik dan bersikap open minded untuk dapat memahami karakter-karakter orang. Alhamdulillah, akhirnya saat ini saya menjalin hubungan yang sangat baik dengan dosen-dosen tersebut. (Bisa jadi calon menantu yang baik).

Kedua, kesabaran. Sabar bukan kata yang bisa dipelajari secara teori semata. Kesabaran perlu diuji untuk melihat tingkatan mana kita berada. Kesabaran menjadikan kita lebih dewasa dan bijaksana. Insya Allah masih terus dan selalu belajar untuk kata sabar ini.

Ketiga, belajar kecewa untuk bangkit. Belajar kekecewaan juga penting. Setelah tahu rasanya kecewa, kita akan belajar bagaimana celahnya untuk bisa bangkit. Karena saya yakin dikehidupan akan datang, akan banyak lagi rasa kecewa kecewa lainnya. Seperti ucapan, “Jatuh 1000 kali pun, kita harus bangun 1001 kali!”¬†

Keempat, belajar menerima kenyataan. Saya orang yang senang bermimpi. Selalu mempunyai planning planning tentang masa depan. Memiliki ambisi yang kuat untuk tercapai. Tapi, orang yang senang bermimpi pun pasti akan terbangun. Belajar menerima kenyataan dan tidak menyalahkan keadaan. Ingat, percaya ini jalan yang terbaik.!

Kelima, menjadikan saya lebih dekat dengan Allah. Buruknya manusia terkadang seperti itu, akan dekat bila susah dan akan jauh bila bahagia. Ya Allah jangan jadikan saya seperti itu. 

Terakhir, walaupun skripsi begini banyak hal yang saya lakukan. Membantu dosen buat ini buat itu, membantu dosen pengabdian ke masyarakat daerah, dapat ilmu, menjalin hubungan menjadi lebih baik sekaligus mendapat penghasilan tambahan ;). Ke kampus cuma buat ngobrol-ngobrol tapi Alhamduillah bisa bantu bantu teman berdiskusi, penelitian, bisa menjalankan hobi memasak dan bikin kue bareng teman, bisa lebih dekat dengan teman-teman kosan (karena malem malem suka ga ada kerjaan dan akhirnya sering ngobrol ngalor ngidul), kosannya bisa jadi persinggahan buat temen-temen yg udah lulus tapi masih ngurus ini-itu dan banyak hal lainnya.

Be positive! Be grateful!

Innama’al ‘usriyushroo.¬†

With hardship will be ease.

Jangan pernah takut untuk bermimpi lagi. Tuntutlah ilmu kemanapun dan apapun itu!

05092014

Advertisements

Author: Rizky Udhiyah >>> Life Puzzle

Indonesian | Bekasi | passionate about cooking especially sweet food, traveling, reading and watching | breads and banana lovers | dreaming to bring Indonesian traditional snacks to the world | dreaming, doing & believing | Try telling stories and sharing through a particle of ink that bundled in this blog. Please, enjoy it! Follow, comment, and let's blogging... :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s