Gn. Papandayan

Sept, 2013

Sebenarnya niat untuk ke Papandayan udah ada. Dulu sempat mau kesini, tapi ga jadi. Eh, sekarang ada ajakan yaudah deh ikut aja. Ini pertama kalinya buat saya mendaki gunung. Pernah sih mendaki gunung-gunungan, Gn. Geulis yang ada di Jatinangor, tapi kalo bisa dibilang itu sebenarnya mendaki bukit.. haha

Tim perjalanan ini cuma bertiga, saya, Puput dan Zaenal. Kebetulan abang Zaenal ini emang anak gunung, dan dia baru banget 2 hari sebelumnya turun dari Gn. Slamet, jadi ya cukup berpengalaman mendampingi 2 cewe ini yang masih newbie dalam hal beginian. Malah ujung-ujungnya dia dibilang porter kita. Hahaha #peace

Berangkat Sabtu pagi dari Jatinangor naik elp Cikajang-Bandung Rp 15.000,-. Kata teman yang pernah kkn didaerah sana, elp ini langsung turun di gerbang awal pendakian Gn. Papandayan. Tapi apalah daya, kami diboongin sama abang elpnya, kita diturunin terminal dan kudu lanjut lagi naik angkot.

Diangkot ini ketemu abang-abang bertiga, saya lupa namanya, yang berasal dari Jakarta mau naik ke Papandayan juga. Akhirnya kita joinan deh sama mereka. Dari gerbang bawah kita naik mobil bak terbuka, join dengan grup lain, bayar 20ribu apa 10ribu gitu #lupa per orangnya. Bisa juga kalo mau bener bener naik gunung ya jalan kaki dari gerbang ke Camp David. Haha, tapi lumayan jauh loh.

Camp David
Camp David

Ini camp david. Dari Camp David kita bisa ngeliat pemandangan macam di atas itu. Asap dan tanah berkapur. Camp david ini adalah batas kendaraan bermotor bisa lewat. Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Camp David ini berupa tempat parkir yang luas, beraspal, banyak warung-warung kecil, tempat registrasi pendakian, toilet dsb.

Katanya dahulu Gn. Papandayan bisa diakses dengan mobil atau kendaraan bermotor sampai atas. Tapi akibat letusan beberapa tahun lalu, jalannya terputus. Memang sih pas nanti jalan ke atas kita bakal nemuin jalan beraspal yang udah ga mulus lagi.

Gas belerang dan tanah berkapur

It's me      

Jalanan pertama yang dilalui berupa batu-batu berkapur yang berbau gas belerang. Usahakan saat memulai pendakian jangan sore hari, karena bau belerang akan lebih kuat. Tujuan pendakian ini ada di balik bukit paling belakang yang ada di foto saya itu. Berasa jauh ya haha.

??????????

Ini ada dijalanan yang katanya dulu beraspal. Dan ini adalah bukit yang saya maksud pada paragraf sebelumnya. Dibelakang itu adalah bukit kapur yang tadi dilewati. Outfit saya kayak anak SD mau senam SKJ ya haha ;D

??????????

??????????

IMG_2434

Akhirnya setelah perjalanan selama 3 jam dengan 1 jam istirahat kami sampai di Pondok Salada :D. Ini adalah tempat penginapan atau camp-camp bagi pendaki yang ingin bermalam di Gn. Papandayan. Pondok Salada berupa lapangan luas beralas rumput yang dikelilingi oleh hutan-hutan kecil. Dari Pondok Salada kita masih harus berjalan kaki lagi menuju Hutan Mati dan Puncak. Itu tenda kami, mini ya. Tapi pas banget buat 3 orang tidur haha. Di dekat Pondok Salada juga banyak sumber air kok. Yah bocoran dari pipa-pipa air tapinya.

hutan mati ??????????

Hutan Mati
Hutan Mati

Ini adalah hutan mati. Tanahnya pasir putih, tapi pohon-pohonnya berupa kayu-kayu,ranting-ranting berwarna hitam (seperti habis terbakar) tanpa adanya daun. Suasana seperti ini menimbulkan kesan seram ya, tapi agak eksotis sebenarnya. Dari hutan mati kita bisa melihat sunrise dan merupakan salah satu jalan menuju puncak Papandayan. Sayangnya, kita kesiangan untuk melihat sunrise.

                                        ??????????

??????????     ??????????

Puncak Papandayan. Yeeeeeeeaaaaayy!! Di Papandayan sebenarnya tidak ada puncak yang sebenarnya. Ini hanyalah puncak bayangan saja, karena bukan merupakan titik tertinggi. Kami melalui hutan mati dan tanjakan mamang untuk ke puncak ini. Disini berupa dataran luas berisi padang edelweis, si bunga abadi. Bunga edelweisnya sedang tidak mekar sempurna sayangnya. Dari hutan mati ke puncak ini memakan waktu sekitar 1-2 jam. Tanjakan mamang emang bener-bener oke deh. Kudu nyiapin kaki mamang-mamang emang. Selama lewat tanjakan ini yang gua pikirin adalah gimana turunnya kalo lewat tanjakan ini. zzzz. Ngebayanginnya aja udah males. Saya ini sebenarnya takut ketinggian. Hiking seperti ini yang buat saya deg-degan adalah gimana kalau harus ketemu jalanan yang sampingnya jurang. Soalnya pasti kaki saya langsung lemes dan kepala jadi pusing. Alhamdulillah typical jalanan ke Papandayan ga ada yang kayak begitu.

??????????Untung saja pulangnya kami melewati jalur air. Yah semacam sungai yang sedang tidak ada airnya. Jalurnya cukup ekstrim karena berupa batu-batu kali yang besar-besar. Memang baiknya ini jalur untuk turun, sangat tidak disarankan naik lewat jalur ini.

  IMG_2586IMG_2585 IMG_2584

Hal yang paling sulit buat saya saat hiking itu adalah turunnya. Entah kenapa deg-degan banget. Mungkin ada hubungannya dengan takut ketinggian tadi kali ya. Jalanan yang dilaluin kan tanah seperti di foto. Dan itu licin, karena takut akhirnya gua merosot aja. Tapi dimarahin sama si zaenal. Lama banget buat saya turun di jalanan begituan doang. Mana 2 orang itu bukannya ngebantuin, eh malah ngetawain. Puas banget lagi ketawanya 😦

??????????      ??????????

Foto full team di Padang Edelweis. Terimakasih guys buat perjalanan ini. Membuat memori indah di masa muda kita. Haha. Semoga kita dikasih kesempatan untuk menjalajah tempat-tempat lain bersama. 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s