All About Bromo

I want to tell you about the beautiful scenery in Bromo. The story was taken from my trip to there last time.

Perjalanan saya waktu itu dimulai dari Pare, Kediri. Waktu sudah menunjukan pukul 23.00 WIB saat keberangkatan dari Pare. Saya dan rombongan mengikuti sebuah perjalanan travel, dengan biaya Rp. 100.000,00 dengan 3 tujuan tempat wisata, yaitu Bromo, Cuban Rondo, dan Batu Night Square. Rombongan kami hanya terdiri dari 28 orang, dengan 2 mobil ELF, yang masing masing mobil memuat 14 orang. Namun, hanya perjalan ke Bromo yang akan saya ceritakan di sini.

Saya sangat excited dengan perjalanan seperti itu. Mungkin karena dari kecil saya adalah termasuk anak yang jarang jalan-jalan, terutama jalan-jalan ke wisata alam seperti itu. Ketika saya kecil, saya paling hanya jalan-jalan ke tempat wisata umum, seperti Taman Mini, Taman Safari, Dufan, Ragunan, dan lain-lain yang sejenislah.

Perjalanan memakan waktu sekitar 5 sampai 6 jam. Itu pun diselingi oleh beberapa kali pemberhentian. Kawasan Bromo yang kami masuki berada di wilayah Pasuruan, Jawa Timur. Memang, kawasan Bromo dapat dimasuki dari beberapa tempat yang berbeda, yaitu Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, dan Malang. Namun, sampai daerah tertentu (lupa lagi) kami harus berpindah ke mobil bak terbuka yang dapat membawa kami ke tempat yang kami tuju. Karena memang hanya kendaraan tertentu saja yang boleh naik ke atas, karena tracknya yang terlalu ekstrem. Dikhawatirkan jika bukan orang biasa akan kesulitan dan menyebabkan kecelakaan. Kendaraan yang tersedia antara lain adalah mobil bak terbuka yang memuat 14 orang, mobil jeep yang memuat sekitar 6 orang, dan ojek. Untuk mobil bak, harga sewa sekitar Rp. 150.000,00, dan untuk mobil jeep sekitar Rp. 400.000,00.

Bromo merupakan salah satu tempat wisata yang sudah terkenal dan terkelola dengan baik bila dibandingkan dengan tempat lain sejenisnya di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya turis yang dating ke tempat tersebut, baik turis domestic maupun turis mancanegara.

Perjalanan ke Bromo sangat mengagumkan. Pemandangan pada malam hari ternyata juga indah, saya (soalnya teman-teman saya sedang tidur semua ketika perjalanan pada malam hari ini) dapat melihat daerah Pasuruan yang meriah karena lampunya. Excited banget buat saya. Hehe. Norak ya?!

Pertama kali, kami menuju tempat tertinggi di daerah tersebut (saya lupa namanya). Tempat tersebut digunakan untuk melihat sunrise. Selain itu, dari tempat tersebut kita dapat melihat deretan pegunungan lain, salah satunya daerah pegunungan Semeru. Sayang sekali, ketika kemarin saya kesana, cuaca sangat tidak bersahabat. Kami tidak dapat melihat sunrise, kami hanya dapat melihat kabut, dan sedikit deretan pegunungan. Sedikit kecewa.

Perjalanan dilanjutkan kembali menuju ke kawah Bromo. Pemandangan selama perjalanan ini juga tak kalah indahnya, apalagi saat perjalanan ke kawah sudah pagi, jadi sudah terlihat jelas pemandangannya. Deretan pegunungan, deretan perbukitan, pohon-pohon, padang rumput, padang pasir, dan lainnya dapat terlihat jelas. Semua ini dapat menghilangkan kekecewaan saya karena tidak dapat melihat sunrise dan semakin membuat saya berdecak kagum atas ciptaan-Nya dan semakin tersadar betapa indahnya dan kayanya Indonesia. Subhanallah.

Gurun Pasir Bromo

Track jalanan sepanjang pulang dan pergi juga sudah bagus, sudah beraspal, dan cukup mulus walaupun jalanannya tidak begitu lebar, hanya cukup untuk 1 mobil. Sehingga ketika 2 mobil berpapasan, harus ada yang mengalah untuk berhenti terlebih dahulu.

Ketika sudah melewati turunan panjang dan berliku, sampailah kami di hamparan daratan yang sangat luas, yang terdiri dari pasir dan beberapa rumput. Di tengah-tengah hamparan tersebut terdapat sebuah gunung bernama gunung Batok yang berbentuk seperti mangkuk terbalik, dan di balik gunung Batok tersebut terdapat kawah Bromo. Selain itu, hamparan tersebut juga dikelilingi oleh deretan pegunungan yang hijau dan tinggi-tinggi. Berada di daratan seperti itu, membuat saya tersadar betapa kecilnya saya sebagai manusia, mengingatkan saya untuk tidak boleh sombong karena saya ternyata tidak ada apa-apanya.

Lautan rumput di kawasan Bromo (bukit Teletubbies)

Namun, sebelum menapaki banyak anak tangga menuju puncak kawah Bromo, rombongan sepakat untuk terlebih dahulu bermain ke savanna yang terletak kurang lebih 15 menit dari daerah kawah Bromo. Menurut bapak supir yang mengantar kami, pemandangan disana indah. Dan ternyata, pernyataan Bapak itu terbukti. Pemandangan yang diberikan adalah padang rumput, sejauh mata memandang yang terlihat hanya hamparan hijau. Hamparan rumput luas yang hijau, deretan pegunungan yang mengelilingi yang berwarna hijau, dan perbukitan yang hijau pula (bukitnya mirip seperti bukitnya teletubbies hehe). Saya termasuk orang yang sangat menyukai sesuatu yang hijau sangat terpesona dengan keadaan alam itu. Setelah puas berfoto-foto ria, kami kembali ke kawasan Bromo dan bersiap untuk menapaki ratusan anak tangga yang menghubungkan kami ke puncak kawah Bromo.

Sayangnya, saya sedikit kecewa dengan pengelolaan di daerah kawasan Bromo tersebut. Tidak bersih dan keamanannya kurang. Banyak kuda yang dijadikan sebagai alat transportasi para pengunjung menuju tangga pertama, namun hampir semua kuda tersebut buang air besar dan buang air kecil sembarangan. Jadi, buat saya yang tidak punya uang untuk naik kuda dan harus jalan kaki sangat terganggu dengan kotoran kuda dan bau yang ditimbulkan selama perjalanan saya ke tangga awal. Selain itu, tangga yang menuju kawah juga banyak yang rusak akibat letusan Bromo beberapa waktu yang lalu dan pemerintah ‘belum’ sempat untuk memperbaikinya.

Teman saya yang iseng mencoba menghitung jumlah anak tangganya, dan katanya berjumlah kurang lebih 240an. Capek juga lho, yah walaupun tinggi masing masing anak tangga cukup rendah sehingga tidak membuat kaki terlalu pegal. Ketika sampai di puncak, menurut saya pemandangannya tidak begitu indah. Saya hanya dapat melihat kawah Bromo yang cukup dalam dan sangat mengerikan bagi saya yang takut ketinggian, serta hamparan pasir yang berwarna hitam yang menurut saya terlihat tandus seperti di padang pasir.

In my opinion, the trip to Bromo is so amazing and something new for me. Actually, Indonesia has a big potential with the natural resources and the beautiful sceneries. We are, as Indonesian, should explore and keep it well, So it can be one of local or international destination of tourism in Indonesia. Yeah, we should being proud of it 😀

Advertisements

Author: Rizky Udhiyah >>> Life Puzzle

Indonesian | Bekasi | passionate about cooking especially sweet food, traveling, reading and watching | breads and banana lovers | dreaming to bring Indonesian traditional snacks to the world | dreaming, doing & believing | Try telling stories and sharing through a particle of ink that bundled in this blog. Please, enjoy it! Follow, comment, and let's blogging... :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s